Harakiri, Budaya berani mati?!



TUGAS I 


ILMU BUDAYA DASAR 


"Harakiri, Budaya Berani Mati?!" 


Dosen : Auliya Ar Rahma 






 




Sistem Informasi 

Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi 

April 2015 




BAB I 


PENDAHULUAN 

1.1 LATAR BELAKANG 




            Budaya, ya budaya. sebuah kebiasaan masyarakat yang turun menurun melekat dalam kehidupan suatu entitas masyarakat dalam kawasan tertenru. Sebuah budaya yang beragam di dunia ini membuat bumi ini penuh dengan keanekaragaman budaya. Keaneka ragaman budaya inilah yang membuat suatu kehidupan masyarakat menjadi menarik. Masyarakat di timur, di barat pasti memiliki perbedaan. Terkadang suatu perbedaan membuat kita merasa resah satu sama lainya. Padahal budaya pasti memiliki sejarahnya masing - masing. Maka dari itu timbul kepercayaan masyarakat terhadap suatu hal yang berhubungan dengan kehidupan masing-masing wilayah. Dalam kehidupan bermasyarakat, suatu budaya telah terkikis oleh modernisasi global. Globalisasi membuat budaya suatu bangsa menjadi hilang. Mengapa demikian? karena masyarakat zaman sekaran lebih menyukai hal yang berbau modern. Seperti handphone, game, film dan lain-lain. Di sisi lain, suatu budaya sangat penting untuk dimiliki oleh suatu bangsa. Budaya adalah ciri khas sebuah bangsa, apabila suatu bangsa tidak memiliki budaya, maka bangsa itu merupakan bangsa yang tidak akan dikenal bangsa lain.

            Dalam hal ini, bangsa yang terkenal memegang teguh budaya nya adalah bangsa Jepang. Pada zaman dahulu, jepang merupakan negara yang terkenal dengan para pendekar yang dikenal dengan sebutan Samurai. Samurai adalah pendekar yang hidup dengan jalan Bushido. Para samurai adalah pendekar yang menjunjung tinggi kehormatan mereka. Dalam medan pertempuran, semuanya mereka kerahkan untuk menang. Dalam suatu ketika, apabila seorang samurai tertangkap atau gagal dalam melaksanakan perintah, mereka merasa bahwa mereka telah kehilangan kehormatan mereka. Dalam hal ini mereka melakukan sebuah ritual untuk mengembalikan kehormatan mereka, yaitu Seppuku atau yang dikenal sebagai Harakiri. Dalam makalah ini, akan dibahas secara tajam mengenai harakiri dalam kebudayaan jepang. Kebudayaan ini sangat menarik untuk kita ungkap lebih jauh informasinya. Maka dari itu penulis mengambil tema ini untuk dikupas lebih lanjut.




1.2 TUJUAN

1. Mengetahui Apa itu Harakiri

2. Mengapa Orang Jepang Melakukan Harakiri

3. Mengetahui Perkembangan Harakiri di Zaman Modern







BAB II 

TINJAUAN TEORI 




KEHORMATAN ADALAH SEGALANYA, BERANI MATI?!

Budaya, berbicara tentang budaya pasti di dunia ini setiap manusia, setiap bangsa, setiap ras di dunia ini pun pasti memiliki budaya yang bermacam macam. Dari budaya yang berdasarkan kepercayaan mereka sampai dari kebiasaan mereka. Budaya merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari suatu masyarakat tertentu. Biasanya budaya muncul dari kebiasaan masyarakat yang terus melekat secara turun temurun.
Gambar Harakiri



            Contohnya adalah budaya dari negeri timur sana, yaitu jepang. Dengan budaya yang mereka anut sampai zaman modern ini, yaitu budaya “harakiri”. Salah satu budaya yang masih sering dilakukan oleh orang Jepang yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisionalnya adalah harakiri. Harakiri adalah tindakan mengakhiri hidup dengan cara menusukkan belati atau samurai ke perut atau jantung yang dilakukan oleh orang yang merasa telah kehilangan kehormatan akibat melakukan kejahatan, aib, dan/atau mengalami kegagalan dalam menjalankan kewajiban. Bagi mereka, tidak ada gunanya lagi melanjutkan hidup bila sudah kehilangan kehormatan. Budaya ini juga masih terkait erat dengan kesetiaan dan kepatuhan orang Jepang kepada kaisar, dimana kaisar dalam kepercayaan Shinto (agama tradisional yang masih banyak dipeluk oleh masyarakat Jepang) berada di tempat yang sangat disakralkan.

            Sebenarya, Seppuku (harakiri) merupakan salah satu adat para samurai jepang zaman dahulu, terutama jenderal perang pada zaman bakufu yang merobek perut mereka dan mengeluarkan usus mereka agar dapat memulihkan nama mereka atas kegagalan saat melaksanakan tugas dan/atau kesalahan untuk kepentingan rakyat. Pada tradisi Jepang, istilah seppuku lebih formal. Harakiri merupakan istilah yang secara umum dikenal dalam bahasa Inggris, dan sering kali disalah-tuliskan dengan "hari kari".

Gambar Harakiri

            Budaya ini terdengar seram memang. Namun begi mereka, tidak ada yg lebih buruk dari hilangnya sebuah kehormatan (bagi yang mempercayain budaya ini). Para samurai zaman dahulu melakukanya karena kegagalan, kegagalan pada saat berperang bagi seorang samurai sama saja kehilangan harga diri atau harga dirinya telah mati. Ritual ini dilakukan oleh dua orang. Satu orang yang ingin melakukan bunuh diri dan sattu orang lagi adalah pendampingnya(kaishakunin). Sang pendamping bertugas untuk memenggal kepala orang yg melakukan hara-kiri, namun hal ini sulit, karena seorang kaishakunin harus memenggal kepala namun tidak boleh terputus. Kepala yang dipenggal harus ttap menempel pada tubuhnya. Maka dari itu biasanya seorang kaishakunin adalah seorang samurai juga, biasanya atasan atau sensei.

Pisau Harakiri
            Yang tidak kalah unik adalah, ketika seseorang ini melakukan hara-kiri, orang ini harus melakukan beberapa ritual. Orang yang ingin melakukan hara-kiri harus mandi terlebih dahulu, memakai pakaian serba putih, biasanya pakai hapi dengan hakama, makan dahul, baru dia siap untuk melakukan hara-kiri. Prosesnya adalah, dia duduk diam dengan tanto diletakkan di depannya, lalu menulis puisi terlebih dahulu. baru itu Tanto diambil lantas ditusukan ke perut agak ke kiri lantas Tanto digeser ke kanan, yang terakhir ke atas sedikit,agar isi perutnya keluar. Selesai, baru sekarang giliran Kaishakunin beraksi menyabet lehernya. Tanto bekas pakai tadi lalu diletakkan di piring bekas makan tadi. Budaya ini memang terdengar ekstrim, namun ini merupakan hal yang lazim pada waktu era samurai (edo).

            Namun, di masyarakat jepang saat ini, memang hara-kiri sudah jarang terdengar lagi. Masyarakat jepang sudah banyak yang meninggalkan budaya-budaya asli mereka. Banyak dari orang – orang jepang lebih memilih menjadi orang atheis dimana mereka tidak peduli terhadap apa yang diyakininya. Namun, bagi masyarakat yang masih berpegang teguh pada budayanya, masih ada orang yang melakukan hal ini. Walaupun di jepang sekarang hanya tinggal sedikit yang masih memegangbudaya ini. Tetapi di Kyoto, salah satu kota besar di jepang, sangat terkenal dengan budayanya. Jepang yang terkenal dengan kemajuan teknologiny ternyata masih memiliki kota yang sangat kaya akan budaya masa lalu jepang.

Kuil Hachiman(kuil samurai)
            Kyoto terkenal akan peperangan. Pada zaman dahulu, banyak peperangan yang terjadi di Kyoto, bahkan monument peperangan pun ada. Tempat ini terbuka bagi wisatawan asing yang ingin melihat budaya-budaya jepang. Bahkan yang tidak kalah menariknya, masih ada kastil pada zaman peperangan dulu. Didalam kastil itu masih terdapat perlengkapan perang, pengunjung juga boleh memakainya sambil jalan – jalan di dalam kastil. Dan ternyata, di dalam kastil juga ada ruangn tempat para pendekar samurai melakukan hara-kiri. Terdapat lukisan lukisan dimana hara-kiri dilakukan, serta banyak armor dan pisau yang terpajang menandakan ini tempat khusus untuk melakukan hara-kiri. Bahkan, ada juga pameran seperti teater zaman dahulu dan pertunjukan pertarungan samurai.

            Hara-kiri memang tidak terdengar asing bagi masyarakat di seluruh dunia. Budaya ini memang sudah terkenal disana. Tidak aneh kalau tiba-tiba ada orang bunuh diri karena alas an malu. Bahkan masyarakat jepang cenderung apatis tentang masalah itu. Mereka cenderung tidak peduli terhadap masalah orang lain. Makanya kadang masyarakat jepang melakukan hal aneh pun mereka tidak peduli. Orang-orang yang melakukan hara-kiri di masyarakat modern ini biasanya karena beberapa hal. Seperti kehormatan, kesalahan yang tidak bisa di maafkan, atau telah melanggar sumpah. Biasanya memang yang melakukan hal ini hanya masyarakat yang masih memegang teguh aliran ini, biasanya keturunan samurai atau orang yang memang mempunyai semangat jiwa seperti samurai. Seseorang yang memang sudah berpegang teguh pada kepercayaanya pasti akan meakukan apapun agar dirinya mampu melaksanakanya, walaupun harus merelakan nyawa mereka. Begitu pula dengan hara-kiri ini, bagi seseoran yang berpegang teguh pada keyakinanya, maka hara-kiri pun dilakukan.

Gambar Samurai 
            Walaupun begitu, pada era samurai, banyak juga orang-orang yang tidak melakukan hal ini walaupun mereka gagal dalam perang atau apapun ini. Kebanyakan orang memang tidak ingin suatu kekalahan menyebabkan ia harus merenggang nyawanya, misalnya seoran shogun yang markasnya direbut oleh musuh namun ia menjadi sandera musuh. Ada yang melakukan hara-kiri ada yang tidak. Ada yang ingin mati namun ia dikatakan sebagai seorang samurai sejati, namun ada yang tetap hidup namun menjadi budak atau sekutu musuh. Dalam sebuah peperangan apapun dapat terjadi, musuh pun pasti akan melakukan hal seefisien mungkin seperti memperbudak seorang shogun atau kaisar daripada membunuhnya. Hal itu dapat memperbesar wilayah mereka.

            Dari penjabaran diatas, mengapa para samurai sangat berani untuk melaukan hal tersebut? Padahal mati adalah hal yang sia-sia?. Bagi para samurai, mereka di didik dalam jalan bushido yang artinya berani mati. Apabila seorang samurai telah kehilangan pedangnya, sama saja mereka telah mati. Itulah yang ditanamkan pada diri mereka. Namun atas dasar keyakinan itu, mereka menjadi pasukan berani mati. Bermodalkan pedang yang merupakan senjata jarak pendek adalah hal yang sangat berbahaya. Apalagi dalam tatacara bertarung samurai, mereka menerapkan One-Slash-One-Kill, yang artinya satu kali tebasan dapat membunuh satu orang. Teknik bertarung para samurai dan juga pedang samurai itu sendiri(katana) diciptakan untuk melakukan hal tersebut. Semangat berani mati mereka perlu kita apresiasi, karena memang suatu keyakinan yang kita pegang erat harus kita jaga, walaupun nyawa taruhannya.


BAB III
KESIMPULAN

           Kesimpulannya, Harakiri atau Seppuku adalah kebudayaan asli jepang. Kebudayaan ini berasal dari pendahulu mereka yaitu para samurai yang berjuang dengan semangat Bushido. Mereka melakukan itu karena suatu kepercayaan, suatu keyakinan, yang mereka pegang teguh. dalam kebudayaan mereka, seorang masyarakat jepang yang telah kehilangan khormatan mereka lebih baik mati. dari pada hidup dengan kehormatan yang dinodai. hal ini patut di apresisai, karena perjuangan karena kehormatan diri merupakan perjuangan sampai mati. 



Comments

Popular posts from this blog

Museum Bank Indonesia

Masalah di Kalangan Pemuda Indonesia

Latar belakang pemuda dan Sumpah pemuda 1928