Melukis Hati dengan Filsafat Cinta, Kahlil Gibran
TUGAS II
ILMU BUDAYA DASAR
”Melukis Hati dengan Filsafat Cinta, Kahlil Gibran”
Dosen : Auliya Ar Rahma
Sistem Informasi
Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi
April 2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Karya sastra Indonesia merupakan sebuah kekayaan bangsa indonesia dalam segi bahasa. Karya sastra yang ada di Indonesia sangatlah beragam, meliputi puisi, pantun, cerpen, novel, dan lain-lain. Karya sastra merupakan suatu karya imajinatif dari seorang
yang dilandasi kesadaran dan tanggung jawab dari segi kreativitas sebagai karya
seni. Karya sastra juga banyak memberikan gambaran kehidupan sebagaimana
yang diingingkan oleh pengarangnya sekaligus menunjukkan sosok manusia sebagai
insan seni yang berunsur estetis dominan. Karya sastra khususnya sebuah puisi adalah karya sastra yang seringkali digunakan pada zaman dahulu dan sangat terkenal, bahkan sastrawan-sastrawan terkenal pun mahir dalam membuat dan membacakan sebuah puisi nan indah. Keberadaan puisi sbagai karya sastra yang masih eksis saat ini tidak lepas dari peran nya yang sering kali digunakan dalam sebuah acara seperti perlombaan dan panggung - panggung hiburan. Karya sastra yang satu ini memiliki ciri khas tersendiri, yaitu pada cara pembacaanya. Dalam pembacaan sebuah puisi, sang pembaca dapat dengan lluasa mengutarakan perasaan nya ke dalam sebuah puisi. apakah puisi tersebuh merupakan puisi sedih, berani, atau yang lain. Sebuah puisi yang baik dibuat dengan mengutarakan perasaan sang pembuat. Karena pada dasarnya, puisi adalah curahan hati sesorang kedalam secarik kertas yang diungkapkan dengan bahasa yang dalam.
Sebuah puisi karangan seseorang yang terkenal memang sangat nikmat didengar. Dalam hal ini Kahlil Gibran adalah salah satunya. Pada makalah ini, saya akan membahas tentang karya sastra sang pujangga cinta Kahlil Gibran. Dimana karya sastranya sangat terkenal , maka dari itu sebuah hal yang positif apabila kita mengetahui lebih jauh tentang karya sastra beliau. Bagimana cara ia menyampaikan puisinya, bagaimana ciri khas nya, dan bagaimana pendapat publik terhadap karya sastranya.
1.2 TUJUAN
1. Mengetahui apa itu karya sastra puisi
2. Mengupas tentang karya sastra Kahlil Gibran
BAB II
TINJAUAN TEORI
Dekatkan dahimu, Mariam, ya, dekatkan
padaku. Ada sekuntum mawar putih dalam hatiku yang ingin kusemaikan di dekat
dahimu. Betapa manisnya cinta bila mawar itu gemetar menahan malu …
(Nukilan dari surat Khalil Gibran kepada May
Ziadah)
Saya tenggelam di bawah cakrawala nun jauh di
sana, dan di sela awan-awan senja yang bentuknya nan mempesona, muncullah
sekunar bintang. Bintang Johar, Sewi Cinta. Dalam hati aku bertanya, apakah
bintang itu juga dihuni oleh insan seperti kita, yang saling mencintai dan mendendam
rindu …?
(Nukilan dari surat May Ziadah kepada Khalil
Gibran)
![]() |
| Quote Kahlil GIbran |
P
|
uisi adalah karya estetis yang bermakna, yang mempunyai
arti, bukan hanya sesuatu yangkosong tanpa makna. Mengapa dikatakan demikian?
Puisi selalu bermakna. Sebab puisi ditulisdari pendramaan pengalaman yang
bersifat penafsiran dalam bahasa berirama. LynnAlternbernd dan Leslie L. Lewis
dalam buku A Handbook for Study of Poetry (1970) menyatakanhal itu. Bahasa
berirama yang diungkapkan tersebut menandai perbedaan antara bentuk karyapuisi
dan prosa. Puisi itu karangan yang terikat oleh aturan-aturan ketat
Untaian – untaian kalimat frasa dari seorang kahlil Gibran.
Dari sebuah kalimat cinta namun mengandung makna filsafat, biasanya dikenal
masyarakat luas khususnya para penikmat sastra di seluruh dunia terutama dari
buku “the prophet” yang telah terbir dalam puluhan bahasa. Para pembaca yang
elah membaca syair yang di lontarkannya, seakan-akan merasa merinding saat
mebaca ayat demi ayat yang di tulis oleh beliau. Dan tidak dapat di pungkiri
bahwa banyak air mata pembaca yang berjatuhan ketika membaca karya beliau.
| Buku Kahlil Gibran |
Beliau dikenal sebagai pujangga cinta, seorang pujangga
cinta yang abadi, alami dan membawa sejuta cinta abadi. Pandangan tentang
filosofis kehidupan dan cinta pernah dialami oleh pujangga ini. Beliau mengkaji,
merenung, dan kemudia merangkai semua iu lewat pena nya yang tajam dan
berkarakter. Beliau merupakan lambing kesuksesan kaim imgran timur di dunia
barat. Keharuman nama kahlil Gibran hamper semua bangsa menciumnya. Namanya melekat
di hati para pemuda, diakui oleh kalangan tua, dan keindahan karyanya diakui
oleh kritikus-kritikus sastra.
![]() |
| Buku Kahlil GIbran Dalam Terjemahan Lain |
Dalam artikel ini, yang akan saya bahas lebih dalam
adalah tentang salah satu karya sastra nya yang telah banyak dikenal orang. Yaitu
“The Prophet (Sang Nabi)”. Kumpulan puisi karya kahlil Gibran yang diberi judul
The Prophet ini diterjemahakan sebagai Sang Nabi dan diterbitkan sebagai karya
sastra klasis tahun 1923. Pada saat itu kahlil Gibran berusia 40 tahun. The
Prophet ini telah menjadi karya terbesar dari kahlil Gibran sehingga kumpulan
puisi ini erjual hingga jutaan ekstemplar. Bahkan karya ini telah diterjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia.
| Foto kahlil Gibran |
Dalam karyanya ini, kahlil Gibran mengutarakan bahwa The
Prophet telah mengangkat dirinya sedemikian rupa sehingga masyarakat dunia
mengenalnya. Beliau berkomentar atas karyanya :
“Saya tidak akan
pernah ada jika tidak ada The Prophet ini. Saat itu , saya kembali ke gunung
libanon. The prophet telah menjadi setengah diriku. Kusumpan draft naskah ini
lebih kurang empat tahun gingga saya putuskan untuk menyerahkannya ke penerbit.
Ini merupakan proses pengendapan sebab saya ingin mengetahui, memastukan dan
meyakini bahwa setiap kata yang kutorehkandi karya ini adalah rangkaan kata
terbaik yan kuberikan untuk nashaku yang terbaik.”
Karya The
Prophet ini memiliki kumpulan puisi dengan kata – kata yang sangat indah. Karya
sastra ini memuat segalanya tentang sang nabi, diceritakan seorang sosok wanita
yang muncul dari ruang keramat depan kuil, yang kemudian berkata :
“o ‘Rasul Tuhan, didalam mencari inti kebenaran,
betapa lama engkau mereka-reka jarak kejauhan dari pengembaraan layar-layar
kapalmu.
Dan kini kapal itu datang, datanglah pula saat,
engkau mesti berangkat
rindu pada kampung halamanmu yang sangat mendalam,
tumpuan kenangan serta pengharapan, kasih kami tak akan mengikatmu, pun
kepentingan kami janganlah jadi halangan
Hanya permintaaan
kami sebelum engkau pergi, bicaralah pada kami dan wariskan perbendaharaan
kebenaran yang akan kami teruskan kepada anak-anak kami dan mereka akan
teruskan kepada anak-anaknya, sebuah warisan lestari abadi.
Dalam kesunyianmu
kau telah ikut menjaga hari-hari kami, dan dalam kewaspadaanmu engkau telah
mendengar tawa dan tangis kami, oleh sebab itu bukakanlah jiwa kami agar kami
menegrti
Dan kisahkanlah
penglihatanmu dibalik tabir kegaiban antara kelahiran dan kematian
bicaralah kepada
kami tentang cinta
Pabila kau
mencintai, janganlah berkata
“Tuhan ada didalam
hatiku”
Tapi sebaiknya
engkau merasa
“aku berada di
dalam Tuhan”
Pun jangan mengira bahwa kau dapat menentukan arah
cinta
Karena cinta ,
pabila kau telah dipilihnya
akan menentukan
perjalanan hidupmu “
| Kata Bijak Kahlil Gibran |
Kalimat yang terdengar sederhana, namun sarat filosofis
memaknakan sebuah pertemuan, kemuliaa, sosok rasul, kematian, kehidupan, dan
cinta sebagai penutupnya. Dan tirai kebebasan renungan dan refleksi mengalir
sempurna. Karyanya memang sangat hebat, padahal kata-kata tersebut terdengar
sangat sederhana. Namun perasaan para
pembaca yang terasa sesak mendengarnya. Kalimatnya begitu kompleks, puisi di
atas hanyalah sebagian kecil dari puisi yand ada dalam The Prophet. Kahlil Gibran
memang berhasil memukau para pembca dengan syair puisinya yang mnurut saya
menyentrik hati. Khususnya gaya menulisnya yang saya piker lebih cenderung
kepada sebuah filsafat kehidupan dan cinta. Biasanya pembaca novel atau puisi
maupun karya sastra lainnya menyukai suatu tema yang menceritakan kehidupan
atau cinta, bahkan ada juga yang menyukai kesengsaraan. Dalam The Prophet yang
puisinya mengenai sang nabi, kahlil Gibran menggabungkan semuanya. Dalam buku
itu terlihat kompleks syair – syair puisi yang menggambarkan sang nabi dengan
filosofis kehidupan.
Didalam buku ini, tidak hanya syair-syair puisi yang
terdapat di dalamnya, buku ini menceritakan tentang sesorang bernama almustafa.
Kerangka naratif buku ini berawal ketika
sang tokoh bersiap naik ke kapal yang akan membawanya pulang ke negeri
asalnya setelah 12 tahun berada di negeri asing. Ia dihentikan oleh sekelompok
penduduk kota tempatnya tinggal selama 12 tahun itu, yang memintanya bericara
tentang rahasia kehidupan yang membentang antara kelahiran dan kemaiian. Semua yang
dibicarakan almustafa pada dasarnya adalah pemmbicaraan bertema kehidupan atau
konvensional. Namun, para kritikus ada yang bilang bahwa berbagai piranti buku
ini erupakan klise belaka, yang sama sekali tidak istimewa. Namun anehnya,
justru semakin banyak orang yang ingin membacanya. Hal ini membuktikan bahwa
ada kekuatan luar biasa dalam cara pengungkapannya, yang menjadikan pembaca
terarik untuk memahami, menghayati, dan mungkin juga meyakinina.
Pada 1960-an buku ini menjadi semacam “buku panduan” untuk mendukung budaya tanding. Pada 1980-an pesan-pesan spiritualisme di dalamnya diadopsi untuk mengimbangi kesuksesan material oleh kaum Yuppie.
Yang isinya adalah :
Yang isinya adalah :
"
Wahai Langit
Tanyakan
pada-Nya
Mengapa
dia menciptakan sekeping hati ini..
Begitu
rapuh dan mudah terluka..
Saat
dihadapkan dengan duri-duri cinta
Begitu
kuat dan kokoh
Saat
berselimut cinta dan asa..
Mengapa
dia menciptakan rasa sayang dan rindu
Didalam
hati ini..
Mengisi
kekosongan di dalamnya
Menyisakan
kegelisahan akan sosok sang kekasih
Menimbulkan
segudang tanya
Menghimpun
berjuta asa
Memberikan
semangat..
juga
meninggalkan kepedihan yang tak terkira
Mengapa
dia menciptakan kegelisahan dalam relung jiwa
Menghimpit
bayangan
Menyesakkan
dada..
Tak
berdaya melawan gejolak yang menerpa…
Wahai
ilalang…
Pernah kan
kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini
Mengapa
kau hanya diam
Katakan
padaku
Sebuah
kata yang bisa meredam gejolak hati ini..
Sesuatu
yang dibutuhkan raga ini..
Sebagai
pengobat tuk rasa sakit yang tak terkendali
Desiran
angin membuat berisik dirimu
Seolah ada
sesuatu yang kau ucapkan padaku
Aku tak
tahu apa maksudmu
Hanya
menduga..
Bisikanmu
mengatakan ada seseorang di balik bukit sana
Menunggumu
dengan setia..
Menghargai
apa arti cinta…
Hati yang
terjatuh dan terluka
Merobek
malam menoreh seribu duka
Kukepakkan
sayap-sayap patahku
Mengikuti
hembusan angin yang berlalu
Menancapkan
rindu….
Disudut
hati yang beku…
Dia retak,
hancur bagai serpihan cermin
Berserakan
….
Sebelum
hilang di terpa angin…
Sambil
terduduk lemah….
Ku coba
kembali mengais sisa hati
Bercampur
baur dengan debu
Ingin ku
rengkuh…
Ku gapai
kepingan di sudut hati…
Hanya
bayangan yang ku dapat….
Ia
menghilang saat mentari turun dari peraduannya
Tak
sanggup ku kepakkan kembali sayap ini
Ia telah
patah..
Tertusuk
duri-duri yang tajam….
Hanya bisa
meratap….
Meringis..
Mencoba
menggapai sebuah pegangan.. "
Kalimat kalimat beliau saking hebatnya sampai
terngiang-ngiang di telinga. Padahal hanya memaca, namun maknanya sangat dalam.
Puisinya tidak seperti puisi kebanyakan, puisinya tentang filsafat dan biasanya
puisi – puisi yang banyak beredar bertema tentang kehidupan namun tidak sedalam
puisi Kahlil Gibran. Beliau memiliki ciri khusus, namun anehnya, kahlil Gibran tidak
pernah mengungkapkan puisinya menggunakan gaya apa. Dengna begitu para pembaca
lebih dapat berfantasi memaknai puisi yang dibuatnya. Sampai – sampai kta
terbawa di dalamnya. Walaupun begitu, kritik pedas banyak dilotarkan kepadanya.
Namun hal itu sama sekali tidak dapat menggoyahkan eksistensi buku itu. Malah semakin
di kritik semakin terkenal.
BAB III
KESIMPULAN
Kesimpulannya, Puisi adalah sebuah karya sastra pencurah jiwa. Perasaan pengarang dicurahkan dengan secarik kertas di dibacakan dengan makna yang dalam. Kahlil Gibran adalah seorang puitis dan
penyair yang sangat berbakat. Karyanya telah diakui di mata dunia. Karya sastra
yang dibuatnya memukau para pembaca dan membuat mereka jatuh kedalamnya. Kekuatan
Kahlil Gibran ada dalam sastranya, sastra dengan ciri Kahlil Gibran dengan gaya
penulisan Kahlil Gibran.



Wew... nice post gan..!
ReplyDelete